Diskusi Buddhist
Selamat login!
Latest topics
» Sangha Dan Ajaran Dhamma
Fri Nov 17, 2017 8:13 pm by Admin

» 5 CARA UNTUK MENGENDALIKAN PIKIRAN DENGAN BENAR
Fri Nov 17, 2017 7:55 pm by Admin

» Kisah kambing yang menyelamatkan pendeta
Thu Dec 01, 2016 5:42 pm by Admin

» Kisah kelahiran kelinci hutan.
Thu Dec 01, 2016 5:40 pm by Admin

» Kisah Buddhis : Visakha
Thu Dec 01, 2016 5:34 pm by Admin

» Mp3 lagu-lagu Buddhis Indonesia
Mon Mar 30, 2015 5:59 pm by Admin

» Kumpulan Lagu Maitreya Versi Indonesia
Mon Sep 08, 2014 8:16 pm by Admin

» Menjadi Seorang Umat Buddha
Mon Sep 08, 2014 7:29 pm by Admin

» Buddhisme dan Pandangan-Tentang-Tuhan
Mon Sep 08, 2014 7:19 pm by Admin

Chatbox


Fanpage


Music

Buddhisme dan Pandangan-Tentang-Tuhan

Go down

Bagaimana Pendapat anda?

Setuju
 
Sangat Menarik
 
Baik
 
Kurang Baik
 
Kurang Menarik
 
Tidak Setuju
 
 
 
Lihat Hasil

Buddhisme dan Pandangan-Tentang-Tuhan

Post by Admin on Mon Sep 08, 2014 7:19 pm

Buddhisme dan Pandangan-Tentang-Tuhan




Apakah Buddhis percaya akan tuhan?

Tidak. Ada beberapa alasannya. Seperti sosiologis dan psikologis moderen, Sang Buddha melihat bahwa banyak pandangan agama dan khususnya pandangan-tentang-tuhan itu berasal dari kegelisahan dan ketakutan. Sang Buddha berkata:

"Karena diselubungi ketakuan orang-orang pergi ke gunung-gunung keramat, hutan-hutan keramat, pohon-pohon keramat dan kuil-kuil." Dp. 188":

Manusia primitif hidup di alam yang berbahaya dan tidak bersahabat, rasa takut pada binatang buas, takut tidak mendapatkan makanan yang cukup, terluka atau penyakit, dan fenomena alam seperti guntur, petir dan gunung berapi selalu bersama mereka. Tidak menemukan rasa aman, mereka menciptakan konsep tuhan untuk memberikan rasa nyaman pada saat-saat baik, keberanian pada saat-saat berbahagia dan kekuatan pada saat-saat tidak baik. Sampai hari ini anda akan melihat bahwa orang-orang sering menjadi lebih religius disaat-saat krisis, anda akan mendengar mereka berkata bahwa keyakinan pada tuhan atau dewa-dewa memberikan mereka kekuatan yang mereka butuhkan untuk menjalani kehidupan. Sering kali mereka menjelaskan bahwa mereka percaya pada tuhan tertentu karena mereka berdoa pada saat membutuhkan dan doanya terjawab. Semua ini sepertinya mendukung ajaran Sang Buddha bahwa pandangan-tentang-tuhan itu merupakan respon dari rasa takut dan frustasi. Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengerti rasa takut kita, mengurangi keinginan kita dan dengan tenang dan berani menerima hal-hal yang tidak dapat kita rubah. Beliau menggantikan rasa takut dengan pemahaman rasional tidak dengan keyakinan tidak berdasar.

Alasan ke-dua Sang Buddha tidak percaya pada tuhan karena tidak ada banyak bukti untuk mendukung pandangan ini. Ada banyak agama, semua mengaku bahwa mereka telah menulis kata-kata tuhan dalam kitab suci mereka, dan hanya mereka sendiri yang mengerti sifat tuhan, bahwa tuhan mereka itu ada dan tuhan dari agama lain tidak ada. Beberapa mengaku bahwa tuhan itu maskulin, beberapa mengaku tuhan itu feminin dan beberapa tidak keduanya. Mereka semua berpuas bahwa ada cukup bukti untuk membuktikan bahwa keberadaan tuhan yang mereka sembah tetapi menghina bukti-bukti yang digunakan agama lain untuk membuktikan keberadaan tuhannya. Mengejutkan bahwa meskipun banyak agama menggunakan banyak cara orisinal selama berabad-abad untuk membuktikan keberadaan tuhan tetapi masih belum ada bukti yang asli, nyata, substansial atau tak terbantahkan. Buddhis menunda memutuskan hal itu sampai bukti-buktinya muncul.

Alasan ke-tiga Sang Buddha tidak mempercayai tuhan karena beliau merasa bahwa keyakinan seperti itu tidak perlu. Beberapa mengaku bahwa keyakinan pada tuhan itu perlu untuk menjelaskan asal mula alam semesta. Tetapi ilmu pengetahuan dengan sangat meyakinkan menjelaskan bagaimana alam semesta mencul tanpa menampilkan konsep-tuhan. Beberapa mengaku bahwa keyakinan pada tuhan itu perlu untuk memiliki kehidupan yang bahagia dan bermakna. Sekali lagi kita dapat melihat bahwa tidak demikian. Ada berjuta-juta atheis dan pemikir-bebas, tanpa menyebut banyak Buddhis juga, yang hidup beguna, bahagia dan bermakna tanpa keyakinan pada tuhan. Beberapa mengaku bahwa keyakinan pada kekuatan tuhan itu perlu karena manusia, yang lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menolong diri mereka. Sekali lagi, bukti mengindikasikan kebalikannya. Kita sering mendengar tentang orang-orang yang telah mengatasi ketidakmampuan dan kekurangan besar mereka, keadaan-keadaan tidak terduga dan kesulitan-kesulitan, dengan sumber daya dari dalam, usaha mereka sendiri dan tanpa keyakinan pada tuhan. beberapa mengaku bahwa tuhan itu perlu untuk memberikan penyelamatan. Tetapi argumen ini hanya akan benar jika kita menerima konsep teologis penyelamatan dan Buddhis tidak menerima konsep seperti itu. Berdasarkan pengalamannya sendiri Sang Buddha melihat bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk menyucikan pikiran, mengembangkan kasih sayang tanpa batas dan belas kasih dan pemahaman sempurna. Beliau menggeser perhatian dari surgawi pada hati dan mendorong kita untuk menemukan solusi masalah-masalah kita melalui pemahaman-pemahaman oleh diri sendiri.



Tetapi jika tidak ada tuhan bagaimana ada alam semesta?

Semua agama memiliki mitos dan kisah-kisah yang mencoba untuk menjawab pertanyaan ini. Pada masa dahulu mitos seperti ini sudah cukup tetapi pada abad ke 21, pada jaman fisika, astronomi dan geologi, mitos-mitos seperti itu telah dilampaui oleh bukti-bukti ilmiah. Ilmu pengetahuan telah menjelaskan sumber dari alam semesta tanpa terpaksa kembali pada konsep tuhan.



Apa yang Sang Buddha katakaan tentang asal mula alam semesta?

Sangat menarik bahwa penjelasan Sang Buddha tentang asal mula alam semesta sangat menyerupai pandangan ilmiah. Dalam Aganna Sutta, Sang Buddha menjelaskan alam semesta hancur dan kemudian ber-evolusi menjadi bentuk yang sekarang setelah jutaan tahun yang tak terhitung. Kehidupan pertama terbentuk pada permukaan air dan lagi, dalam jutaan tahun yang tak terhitung, berevolusi dari organisme sederhana menjadi kompleks. Semua proses ini, Beliau katakan, tanpa awal dan akhir, dan berjalan karena hukum alam.



Anda berkata bahwa tidak ada bukti keberadaan tuhan tetapi bagaimana dengan mukjizat?

Ada banyak orang yang mempercayai bahwa mukjizat-mukjizat adalah bukti dari keberadaan tuhan. Kita mendengar pengakuan tak berdasar bahwa kesembuhan terjadi tetapi kita tidak pernah mendapatkan pengakuan independen dari kantor medis atau dokter. Kita mendengar laporan-laporaan "tangan-kedua" bahwa seseorang diselamatkan dari bencana secara mukjizat tetapi kita tidak pernah mendapatkan pengakuan saksi mata apa yang benar-benar terjadi. Kita mendengar gosip bahwa doa menghilangkan penyakit di tubuh dan menguatkan anggota tubuh yang lemah, tetapi kita tidak pernah melihat X-ray atau mendapatkan komentar dari dokter atau perawat untuk membuktikan gosip-gosip ini. Pengakuan tak berdasar, laporan-laporan "tangan-kedua" dan "katanya" adalah bukan merupakan bukti nyata dan bukti nyata dari mukjizat itu sangat langka. Akan tetapi, hal-hal tidak biasanya dan hal-hal yang tak dapat dijelaskan kadang-kadang memang terjadi. Tetapi ketidakmampuan kita untuk menjelaskan hal-hal seperti itu tidak merupakan persetujuan atas keberadaan tuhan. Hal itu hanya membuktikan bahwa pengetahuan kita yang masih tidak lengkap. Sebelum dikembangkan obat-obatan moderen, ketika orang tidak tahu penyebab dari penyakit, mereka percaya bahwa tuhan atau dewa-dewa mengirim penyakit sebagai hukuman. Sekarang kita mengetahui apa penyebab hal-hal seperti itu dan ketika kita sakit, kita minum obat. Pada saat ketika pengetahuan kita tentang dunia tidak lengkap, kita dapat mencari tahu apa penyebab fenomena yang tidak dapat dijelaskan itu, sama seperti kita dapat mengerti apa penyebab penyakit.



Mengapa banyak orang yang percaya pada sesuatu seperti tuhan, pasti itu benar.

Tidak demikian. Ada waktu dimana semua orang mempercayai bahwa dunia itu datar, tetapi semua itu salah. Jumlah orang yang percaya pada sebuah pandangan itu bukan ukuran kebenaran atau kebohongan sebuah pandangan. Satu-satunya cara kita dapat mengatakan pandangan itu benar atau salah adalah dengan melihat dari fakta-fakta dan meneliti bukti-bukti.



Lalu jika Buddhis tidak mempercayai tuhan, apa yang engkau percaya?

Kita tidak mempercayai tuhan karena kita mempercayai kemanusiaan. Kami percaya bahwa setiap manusia itu berharga dan penting, semua memiliki potensi untuk berkembang menjadi seorang Buddha - mahluk yang telah sempurna. Kami percaya bahwa manusia dapat meninggalkan ketidaktahuan dan ketidakrasionalitasannya dan melihat hal-hal demikian adanya. Kami percaya bahwa kebencian, marah, niat buruk dan iri hati dapat digantikan oleh kasih sayang, kesabaran, kemurahan hati dan kelembutan. Kami percaya bahwa semua hal ini masih dalam jangkauan setiap orang jika mereka membuat usaha, dibimbing dan didukung oleh sesama rekan Buddhis lainnya dan diinspirasi oleh contoh yang diberikan oleh Sang Buddha. Seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha:

'Tidak ada yang menyelamatkan kita selain diri kita sendiri, Tidak ada yang dapat dan tidak ada yang mungkin. Diri kita sendiri yang harus menjalani sang jalan, Akan tetapi, Para Buddha telah menunjukkan sang jalan dengan jelas. - Dp. 165:
avatar
Admin
Admin

Jumlah posting : 21
Join date : 17.04.13
Age : 20
Lokasi : Palembang

Lihat profil user http://diskusibuddhis.forumid.net

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik