Diskusi Buddhist
Selamat login!
Latest topics
» Sangha Dan Ajaran Dhamma
Fri Nov 17, 2017 8:13 pm by Admin

» 5 CARA UNTUK MENGENDALIKAN PIKIRAN DENGAN BENAR
Fri Nov 17, 2017 7:55 pm by Admin

» Kisah kambing yang menyelamatkan pendeta
Thu Dec 01, 2016 5:42 pm by Admin

» Kisah kelahiran kelinci hutan.
Thu Dec 01, 2016 5:40 pm by Admin

» Kisah Buddhis : Visakha
Thu Dec 01, 2016 5:34 pm by Admin

» Mp3 lagu-lagu Buddhis Indonesia
Mon Mar 30, 2015 5:59 pm by Admin

» Kumpulan Lagu Maitreya Versi Indonesia
Mon Sep 08, 2014 8:16 pm by Admin

» Menjadi Seorang Umat Buddha
Mon Sep 08, 2014 7:29 pm by Admin

» Buddhisme dan Pandangan-Tentang-Tuhan
Mon Sep 08, 2014 7:19 pm by Admin

Chatbox


Fanpage


Music

Kisah kambing yang menyelamatkan pendeta

Go down

Kisah kambing yang menyelamatkan pendeta

Post by Admin on Thu Dec 01, 2016 5:42 pm

KAMBING YANG MENYELAMATKAN PENDETA
(Tentang Ketidaktahuan
)


Berkali-kali purnama yang lampau, hiduplah seorang pendeta yang amat termasyur dari faham agama yang sudah sangat tua. Pada suatu hari, ia memutuskan bahwa saatnya sudah tepat untuk melakukan upacara korban kambing. Dalam kebodohannya, ia menganggap bahwa itu merupakan persembahan yang diinginkan oleh dewa nya.

Pertama-tama ia memilih kambing yang cocok. Lalu ia menyuruh pembantunya agar memandikan kambing tersebut di sungai suci dan menghiasinya dengan kalungan bunga. Selanjutnya, sebagai bagian dari praktik penyucian sang pelayan juga harus mandi.

Di tepi sungai, tiba-tiba kambing tersebut merasa bahwa hari ini dirinya akan mati. Ia secara tiba-tiba teringat akan kehidupannya yang lampau, kematiannya dan kelahirannya kembali. Ia juga menyadari bahwa akibat dari perbuatan buruknya dimasa lampau akan masak. Sehingga membuat tertawa kambing yang tidak sepatutnya tertawa, seperti bunyi suara simbal.

Di saat ia tertawa-tawa, ia juga ingat pada kenyataan lain, yaitu tentang si pendeta, yang dengan mengorbankannya, akan mengalami derita mengerikan yang sama pada akhirnya, karena kebodohannya. Melihat kenyataan ini ia lalu menangis dengan kerasnya, sama kerasnya ketika ia tertawa.

Sang pelayan, yang sedang mandi di sungai suci, sangat terperanjat mendengar suara tawa dan tangis dari si kambing. “Kenapa kamu tertawa tawa-tawa keras lalu menangis dengan keras juga? Kenapa begitu?” tanya nya. “Kuberitahu kenapa begitu. Tapi sebaiknya dihadapan majikanmu,” jawab si kambing.

Karena ia penasaran ingin tahu sebabnya, dengan segera ia membawa kambing korban tersebut ke majikannya. Ia menerangkan semua yang telah terjadi ditepi sungai. Pendeta juga ingin segera mengetahuinya. Dengan sopan ia meminta si kambing untuk menjelaskan: “Tuan kambing, kenapa engkau tertawa lalu menangis?”

Kambing yang ingat kehidupan masa lampaunya, lalu menjawab: “Jauh dimasa lalu, aku juga seorang pendeta yang sangat terpelajar dalam upacara-upacara suci keagamaan. Seperti dirimu, aku menganggap bahwa mengorbankan kambing adalah persembahan yang dibutuhkan yang hendak saya lakukan kepada dewa saya, yang akan membawa kebaikan pada yang lain dan juga diri saya sendiri pada hidupku yang akan datang. Namun demikian, kenyataannya selama 499 kali kelahiranku kemudian, aku telah mengalami penderitaan dipotong kepalaku.”

“Saat disiapkan sebagai korban hari ini, aku sadar akan kehilangan kepalaku sekali lagi, untuk yang ke 500 kalinya. Selanjutnya, setelah hari ini, aku akhirnya terbebas dari karma buruk perbuatan buruk yang telah ku lakukan jauh dimasa lampau. Kegembiraan ini membuat aku kegirangan.
“Lalu tiba-tiba aku menyadari bahwa dirimu, sebagai pendeta, baru saja akan memulai perbuatan buruk yang sama, yang telah saya lakukan, dan akan bernasib mengalami akibat sama kepalamu akan dipotong dalam 500 kali kelahiranmu yang akan datang! Jadi, karena rasa kasihan dan prihatin kepadamu, tawaku berubah menjadi tangisan.”

Khawatir kalau yang diceritakan si kambing adalah nyata, sang pendeta berkata: “Baiklah, tuan kambing, jika ternyata demikian, aku tak akan membunuh mu.” “Pendeta Mulia, meskipun dirimu tidak membunuhku, aku tahu sudah pasti aku akan kehilangan kepalaku hari ini, dan pada akhirnya tebebas dari karma burukku,” jawab si kambing.

“Jangan cemas kambing ku. Aku akan memberimu perlindungan yang sangat baik dan saya jamin bahwa tak ada yang akan menyakitimu,” jawab sang pendeta. “Oh pendeta, perlindunganmu tak ada gunanya, dibandingkan kekuatan karma.”

Pendeta tersebut membatalkan upacara korbanya, dan mulai ragu terhadap pembunuhan binatang yang tanpa dosa. Ia membebaskan si kambing, bersama dengan pelayannya, mengikuti kambing tersebut dari dekat untuk melindunginya dari bahaya apapun.

Namun demikian, kambing telah digariskan sampai diakhir hayatnya. Kambing itu berkeliaran didaerah berbatu, melihat beberapa daun hijau dicabang ia berusaha meraihnya, saat tiba-tiba kejadian petir menyambar pada batu yang miring, hempasan pecahan tajam runtuh, langsung memotong kepala kambing tersebut! Ia mati seketika.

Mendengar kejadian yang menakjubkan ini, ratusan penduduk sekitar mendatangi tempat sersebut. Tak seorangpun yang mengetahui bagaimana ini bisa terjadi.

Kinara yang hidup di pohon dekat tempat itu menyaksikan seluruh kejadiannya. Ia memperlihatkan dirinya, mengepakan sayapnya dengan aggun, lalu menceritakan semua ini kepada penduduk yang sangat ingin tahu:

“Lihatlah apa yang terjadi pada kambing malang ini. Inilah akibat dari membunuh binatang! Semua makhluk hidup yang lahir; menderita sakit, usia tua dan mati. Akan tetapi semua menginginkan untuk hidup dan tidak mau mati. Ketika seseorang membunuh makhluk hidup lainnya, ini menyebabkan penderitaan bagi yang melakukannya, baik saat ini maupun tak terbilang hidupnya yang akan datang.

“Makhluk hidup tidak mengerti bahwa akibat segala perbuatan, baik atau buruk, adalah tak terhindarkan. Beberapa orang terus membunuh dan memetik lebih banyak penderitaan pada dirinya sendiri dimasa yang akan datang. Setiap kali mereka membunuh, bagian dari dirinya sendiri haruslah juga mati dalam hidup yang saat ini juga. Bukan itu saja, penderitaannya berlanjut hingga dalam rupa kelahiran di alam neraka!”

Mereka yang mendengar kata-kata kinara tersebut merasa mereka benar-benar beruntung. Mereka membuang ketidak mau tahuannya terhadap membunuh, lalu menjalani hidup dengan lebih baik, yang berakhir dalam kelahiran bahagia.
avatar
Admin
Admin

Jumlah posting : 21
Join date : 17.04.13
Age : 19
Lokasi : Palembang

Lihat profil user http://diskusibuddhis.forumid.net

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik